Satgas Ingatkan Empat Indikator Alarm Dini COVID-19

Jakarta, BeritaJuara – Beberapa indikator penanganan COVID-19 belakangan ini menunjukkan perkembangan kurang baik dan seharusnya menjadi alarm dini.

Satgas Penanganan COVID-19 mencermati adanya tren peningkatan pada 4 indikator yaitu kasus positif, kasus aktif, angka positivity rate, dan keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) isolasi rumah sakit.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito menegaskan data ini adalah fakta meningkatnya penularan di masyarakat terlebih adanya varian Omicron.

Untuk itu, kewaspadaan bersama harus ditingkatkan dan pengendalian segera mendesak dilakukan. Mengingat kunci keberhasilan pencegahan lonjakan kasus adalah kesigapan penanganan sedini mungkin.

“Perkembangan ini sudah merupakan alarm dini. Dan sudah sepatutnya kita menetapkan target pengendalian kasus agar tetap terkendali,” Wiku seperti dirilis Tim Komunikasi Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Wiku memaparkan perkembangan pada 4 indikator dimaksud.

Pertama, tren peningkatan kasus positif dalam 14 hari terakhir. Meskipun cenderung fluktuatif, namun penambahan kasus harian meningkat hingga 404 per hari. Cukup signifikan dibandingkan data 2 minggu sebelumnya hanya 136 kasus per hari. Bahkan melihat lebih jauh lagi, terakhir penambahan kasus positif diatas 400 per hari terjadi November 2021.

Kedua, tren peningkatan kasus aktif harian yang teramati dalam seminggu terakhir. Perbandingannya, pada minggu lalu jumlah kasus aktif 4.300 kasus. Namun, per 5 Januari 2022 Jumlah kasus aktif naik menjadi 4800.

Ketiga, tren peningkatan angka positivity rate atau proporsi orang yang dideteksi positif dari keseluruhan orang yang dilakukan tes. Sama seperti kasus positif, tren kasus aktif harian cenderung fluktuatif. Jika pada 2 minggu lalu angka hariannya 0,07%, saat ini meningkat menjadi 0,19 persen.

Keempat, peningkatan angka nasional BOR isolasi di rumah sakit rujukan. Kenaikannya, konsisten dalam 14 Hari terakhir. Jika 2 minggu ketersediaan tempat tidur isolasi sebesar 1,38 persen, saat ini meningkat menjadi 3,35%.

Wiku menegaskan bahwa perkembangan ini harus segera dikendalikan saat ini juga. Karena bertambahnya orang positif akan menulari lebih banyak lagi dan berpotensi menimbulkan kenaikan kasus yang lebih tinggi lagi di masyarakat. Secepatnya lakukan langkah-langkah pengendalian segera dengan memasifkan testing dan tracing serta mengoptimalkan kembali kerja posko untuk menggalakkan kedisiplinan protokol kesehatan 3M.

Meskipun ada perkembangan kurang baik, sebaliknya ada indikator penanganan yang menunjukkan tren penurunan. Pertama angka kematian harian trennya menurun dalam 14 Hari terakhir. Walaupun masih cenderung fluktuatif. Perkembangan yang teramati pada 2 minggu lalu angkanya 8 per hari, dan saat ini menurun menjadi 4 kasus per hari. Kedua, tren penurunan angka BOR ICU dalam 10 hari terakhir. Keterisiannya dalam 10 hari kebelakang sebesar 3,95% per hari dan konsisten menurun hingga 3,23% dalam sehari.

Dengan mencermati tren peningkatan dan penurunan pada indikator-indikator tersebut, menunjukkan tingkat penularan dan jumlah orang positif tidak diikuti dengan kebutuhan perawatan dan kematian. “Hal ini menunjukkan kasus yang saat ini terjadi cenderung tidak bergejala atau bergejala ringan,” imbuh Wiku.

Hal ini dapat terjadi karena 2 hal yaitu karakteristik varian Omicron yang beredar dan menginfeksi masyarakat cenderung bergejala ringan dan tanpa gejala. Lalu, terbentuknya kekebalan di masyarakat baik akibat tertular maupun yang dipicu vaksinasi. Namun fenomena ini tentu perlu untuk dipelajari lebih lanjut dengan metode penelitian yang baik dan benar sebelum dapat disimpulkan penyebabnya.

Terlepas dari itu, penting tetap berupaya menurunkan peningkatan kasus. Karena secara teori yang didukung beberapa hasil studi menyatakan potensi munculnya varian baru lebih tinggi seiring tingginya tingkat penularan. Adanya ruang bagi virus untuk menular sama dengan memberi kesempatan bermutasi menjadi varian baru.

Selain itu perlu disadari bahwa adanya keterbatasan fasilitas dan sumber daya kesehatan, serta adanya celah penularan yang meluas sama saja menempatkan kelompok rentan dalam risiko yang lebih tinggi. “Karena bukan tidak mungkin kelompok rentan tersebut adalah orang-orang terdekat yang kita cintai,” pungkas Wiku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.