RS Modular (1): Kewajiban BUMN Melayani Masyarakat

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir

Jakarta,-BeritaJuara.id- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengaku sedang mempersiapkan rumah sakit modular di belakang Taman Anggrek, Duren Sawit, Jakarta Barat. Rumah sakit ini nantinya akan dikelola oleh PT.Pertamina Bina Medika (Pertamedika), anak perusahaan PT.Pertamina (persero) milik BUMN.

Pengakuan Erick Thohir ini disampaikan dalam wawancara ekskluif CNN TV di Jakarta, Sabtu (17/7/2021). “Selama ini kita sudah bangun rumah sakit modular, termasuk di Simpruq dan saat ini juga dibangun di belakang Taman Anggrek. Rumah sakit modular ini bagian dari public service obligation BUMN,” ujar Erick.

Gebrakan Erick membangun rumah sakit ini terbukti meringangkan beban Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), rumah sakit swasta, dan juga Puskesmas di tengah melonjaknya jumlah pasien Covid-19 di tanah air.

Direktur Utama Pertamedika IHC ,Fathema Djan Rachmat, mengatakan RS Modular tersebut nantinya memiliki 500 tempat tidur dan ditargetkan rampung dalam waktu empat pekan ke depan.

“Yang akan kita bangun bersama-sama nantinya ini Pak, 500 bed lagi dengan 200 tempat tidur untuk ICU dan 300 isolasi. Diharapkan 500 bed ini selesai dalam empat minggu,” kata Fathema dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Selasa (6/7/2021).

Fathema menuturkan lokasi rumah sakit modular yang sedang dibangun itu berada di belakang Mal Taman Anggrek dan menempati lahan milik PT Pertamina.

Proses pembangunan rumah sakit modular itu, lanjutnya, sudah masuk tahap pembersihan area dan pengerasan tanah. Pertamedika IHC juga sudah memesan alat-alat kedokteran yang akan dipasang di sana.

“Empat minggu dari sekarang (selesai). Jadi kalau bentuknya itu adalah modular, dia bentuknya tinggal pasang-pasang saja pak,” kata Fathema.

Menurut Fathema, konsep  Pertamedika IHC berkaitan dengan rumah sakit modular di belakang Taman Anggrek akan disesuaikan dengan rumah sakit modular di Kompleks Pertamina Simprug yang telah beroperasi sejak Selasa (9/6/2021).

Fathema menambahkan RS Modular Simprug dilengkapi negative pressure dan filter HEPA. Artinya, udara yang dilepaskan keluar rumah sakit tetap aman untuk lingkungan.

Tidak hanya itu, kata Fathema, di sana juga terdapat ruang bersalin sehingga jika ada ibu hamil positif COVID-19 mau melahirkan, rumah sakit bisa menerima dan dapat menanganinya dengan baik. Bahkan setelah melahirkan, bayinya juga tetap dapat berada dekat dengan ibunya.

Melengkapi dua fasilitas tersebut, lanjutnya, RSPP Extention modular ini juga memiliki layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang operasi, ruang laboratorium, radiologi, instalasi Farmasi, instalasi gizi, ruang sentral sterilisasi, ruang laundry, dan ruang pemulasaraan jenazah.

Fathema menambahkan salah satu keunggulan lain dari RSPP Extension ini yaitu dengan adanya instalasi Hemodialisa (terapi cuci darah) sehingga dapat mempermudah penanganan pasien covid-19 yang juga membutuhkan penanganan cuci darah.

Rumah sakit yang dibangun di lapangan sepak bola seluas 22.700 meter persegi ini, kata Fathema, memiliki kapasitas 300 bed yang terdiri dari 240 bed non-ICU, 31 bed ICU, 19 bed HCU, dan 10 bed.

Fathema mengatakan ada 950 tenaga medis dan paramedic di rumah sakit ini. Selain itu, lanjutnya, rumah sakit ini  juga dilengkapi dengan peralatan canggih seperti CT Scan 32/64 slice, CCTV 2 arah dilengkapi dengan unit video endpoin. Sehingga pasien bisa berkomunikasi secara langsung dengan keluarga, hingga central monitor yang disiapkan dalam Command Room.

Tenaga medis di RSPP Extension, kata Fathema, wajib mengenakan APD (Alat Plindung Diri/hazmat) lengkap ketutup semua, mirip alien. Mereka memantau perkembangan para pasien dan selalu siap siaga 24 jam, meladeni keluhan.

Menurut Fathema, rumah sakit yang didesain secara modular ini memprioritaskan kebersihan. Juga dijaga agar tetap tenang dengan tujuan agar para pasien yang dirawat bisa beristirahat dengan maksimal.

“Para pasien COVID-19 mendapatkan waktu yang cukup untuk isitirahat, makanan bergizi serta asupan vitamin yang dibutuhkan. Karena hingga kini hal itulah yang jadi obat mujarab untuk mengalahkan COVID-19 terutama untuk pasien dengan gejala sedang,”ujar Fathema.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *