Menlu Sampaikan Penghargaan atas Dukungan AS Selama Pandemi

Menlu RI Retno Marsudi dan Menlu AS Antony Blinken saat memberikan keterangan pers usai pertemuan bilateral di Washington DC, AS. (3/8/2021) (Foto : Jose Luis Magana/Pool via REUTERS)

Washington DC, beritajuara.id-Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, menyampaikan penghargaan atas kerjasama dan dukungan Amerika Serikat (AS) bagi Indonesia selama pandemi Covid-19. Menurutnya, sejak awal pandemi, AS telah memberikan bantuan kepada Indonesia berupa vaksin, ventilator, dan peralatan medis.

Menlu Retno Marsudi mengatakan hal ini dalam Pertemuan Pertama Dialog Strategis (1st Meeting of Strategic Dialogue) dengan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (3/8/2021).

Retno mengatakan penghargaan atas kerja sama dan dukungan AS karena sejak awal masa pandemi, AS telah memberikan lebih dari 8 juta vaksin moderna dengan mekanisme dose-sharing melalui covax facility. Sebelumnya, AS juga telah memberikan dukungan 1000 ventilator dan peralatan medis kepada Indonesia di awal pandemi. AS juga telah mengumumkan tambahan dukungan kepada Indonesia sebesar USD 30 juta untuk penanganan pandemi. 

Retno menambahkan Indonesia menjajaki kerja sama dengan AS dalam penyediaan obat-obatan terapatik. Untuk jangka panjang, lanjutnya, Indonesia juga menjajagi kerja sama dengan AS terutama untuk pengembangan vaksin dengan teknologi mRNA dan penguatan sistem ketahanan kesehatan global. “Upaya kerja sama jangka panjang penting dalam upaya mengurangi kesenjangan akses global terhadap vaksin dan obat-obatan Covid-19 serta mengantisipasi potensi terjadinya pandemi di masa yang akan datang,” tegasnya. 

Selain bidang kesehatan, kedua Menlu juga sepakat bahwa masih terdapat banyak ruang bagi upaya peningkatan kerja sama ekonomi. Retno menjelaskan mengenai Undang-Undang Cipta Kerja yang diyakini akan dapat membantu upaya meningkatkan investasi AS di Indonesia. Di bidang perdagangan, dia kembali sampaikan pentingnya dilanjutkan pembahasan mengenai Limited Trade Agreement antara dua negara. 

Sebagaimana diketahui, di tahun 2020, AS merupakan mitra dagang terbesar ke-2 bagi Indonesia. Nilai perdagangan antara kedua negara pada tahun 2020 sebesar USD 27 milyar.

Kedua Menlu juga melakukan tukar pendapat mengenai sejumlah isu kawasan dan internasional. Menlu Blinken, kata Retno, mengapresiasi peran penting Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. “Indonesia merupakan mitra demokrasi kunci AS dan AS siap bekerja sama dalam berbagai isu-isu penting di kawasan” tegas Blinken.

Kedua Menlu bertukar pikiran mengenai situasi Myanmar dan menyampaikan kekhawatiran yang sama melihat perkembangan Myanmar saat ini. Demokrasi penting untuk ditegakkan kembali di Myanmar dan keselamatan serta kesejahteraan rakyat Myanmar penting untuk terus dijadikan prioritas. 

Perkembangan situasi di Afganistan juga menjadi bahasan dalam Dialog Strategis ini. Retno menjelaskan mengenai peran Indonesia selama ini, antara lain sebagai inisiator pertemuan ulama. Selain itu, ia juga  menekankan pentingnya perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam kehidupan masa depan Afghanistan. 

“Perempuan harus diberikan kesempatan untuk membangun Afghanistan kedepan pasca konflik”. ujar Retno sambil menambahkan keduanya  sepakat mengenai pentingnya komitmen dan good faith para pihak di Afghanistan untuk melanjutkan perundingan perdamaian. 

Sementara terkait perubahan iklim global, Retno menegaskan Indonesia menyampaikan progres pemenuhan komitmen Indonesia dalam isu perubahan iklim. Indonesia yakin akan dapat memenuhi komitmen penurunan emisi sebanyak 29% dengan kapasitas nasional dan 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2030. 

Indonesia, lanjutnya, mengharapkan AS dan negara maju dapat juga memenuhi komitmennya termasuk penyediaan Climate Fund untuk mendukung program-program adaptasi.

Dialog Strategis antara kedua Menlu berlangsung dengan bersahabat dan sangat terbuka. Sebelum Dialog Strategis berlangsung, Menlu Retno sempat bertemu dengan Deputy Secretary Wendy Sherman, yang pada bulan Mei yang lalu melakukan kunjungan ke Indonesia. (kris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.