Kemenkeu Siapkan Dukungan Fiskal PLTS Terapung Cirata

Direktur Jenderal Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Dirjen PPR Kemenkeu), Luky Alfirman (Foto : Kemenkeu)

Jakarta, beritajuara.id-Pemerintah melalui Kementerian Keuangan memberikan dukungan fiskal atau insentif perpajakan untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata, Jawa Barat.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Dirjen PPR Kemenkeu), Luky Alfirman pada acara Deklarasi Financial Close PLTS Terapung Cirata, sebagaimana termuat dalam siaran pers Kemenkeu, Rabu,(4/8/2021).

Luky mengatakan secara umum, tahapan proyek pembangkit tenaga listrik (PLT) EBT terbagi menjadi tujuh tahapan, mulai dari studi kelayakan hingga operasi. Untuk itu, lanjutnya, pemerintah telah menyediakan berbagai dukungan fiskal yang berbeda dari setiap tahapan proyek PLT EBT tersebut, salah satunya adalah insentif perpajakan

“Adapun insentif perpajakan saat ini yang tersedia untuk sektor EBT antara lain dalam bentuk tax holiday dan tax allowance, pembebasan PPN untuk peralatan dan fasilitas pembebasan bea masuk impor”, jelas Luky.

Luky mengaku keterbatasan ruang fiskal dan pentingnya value for money mendorong pentingnya peningkatan peran pendanaan swasta dalam pengembangan PLT Energi Baru Terbarukan (EBT). Skema kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU), lanjutnya, juga dapat dimanfaatkan dalam pengembangan infrastruktur EBT.

“Pemanfaat fasilitas pembiayaan ini dilakukan dengan terus melakukan optimalisasi terhadap peran dari yang kita sebut special mission vehicle Kementerian Keuangan, yaitu kita punya PT SMI, PT PII, dan PT Geodipa untuk mendukung proyek infrastruktur EBT”, ujar Luky.

Luky menambahkan proyek PLTS Terapung Cirata merupakan langkah awal yang fundamental untuk mewujudkan kemitraan antara BUMN dan swasta dalam pengembangan EBT khususnya PLTS. Dengan demikian, tujuan pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi dapat segera direalisasikan.

“Semoga dengan akan beroperasinya PLTS Terapung Cirata ini selain akan berkontribusi terhadap akselerasi target capaian bauran energi, juga akan dapat meningkatkan investment kita, membantu peningkatan industri dalam negeri, penciptaan tarif yang kompetitif, dan dapat menjadi inspirasi untuk proyek-proyek inovatif lainnya”, ujar Luky.

Sebagai informasi, PLTS Terapung Cirata memiliki kapasitas 145 megawatt di Waduk Cirata, Jawa Barat. Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap pemenuhan pembiayaan atau financial close dari lembaga keuangan. PLTS Terapung Cirata yang memiliki nilai investasi sekitar 129 juta dollar AS dari tiga lembaga keuangan internasional, yakni Sumitomo Mitsui Banking Corp, Societe Generale, dan Standard Chartered Bank.

Tenaga listrik yang dihasilkan PLTS Terapung Cirata nantinya akan disalurkan melalui jaringan transmisi 150 KV sepanjang 3,2 Km dengan target beroperasi secara komersial pada November 2022. (kris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.